Rabu, 09 Oktober 2019

MAKALAH ILMU PENGETAHUAN BUMI DAN ANTARIKSA




MAKALAH

(ILMU PENGETAHUAN BUMI DAN ANTARIKSA)






DISUSUN OLEH :
IRMAYANTI
H0417011





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2017






BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Atmosfer adalah lapisan gas yg melingkupi atau menyelimuti sebuah planet termasuk bumi, mulai dari permukaan planet tersebut sampai jauh diluar angkasa. Di bumi, atmosfer berada diketinggian 0 km diatas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi.
            Atmosfer mempunyai manfaat umum yakni sebagai lapisan pelindung yg melindungi bumi dan seluruh isinya. Selain itu, atmosfer memiliki banyak manfaat lain, yaitu: melindungi bumi dari paparan radiasi sinar ultraviolet dengan lapisan ozon, melindungi bumi dari benda-benda luar angkasa yg jatuh akibat gaya gravitasi bumi, sebagai media cuaca, mengatur proses penerimaan panas matahari dan lain-lain.
            Atmosfer terdiri dari lapisan-lapisan yg tersusun secara berlapis satu diatas yg lainnya. Setiap lapisan tersebut memiliki fungsi dan ciri-ciri yang berbeda, serta dinamai menurut fenomena yg terjadi di masing-masing lapisan tersebut.
            Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa banyak hal yang penting untuk diketahui tentang atmosfer bumi dan sangat menarik untuk dipelajari agar kita lebih menghargai atmosfer bumi beserta peranannya bagi kehidupan. Oleh karena itu makalah ini dibuat dengan judul “ATMOSFER”.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari atmosfer?
2.      Bagaimana klasifikasi atmosfer?
3.      Apa itu ramalan cuaca?
4.      Apa itu fenomena alam El-nino dan La-nina?
5.      Apa yang dimaksud dengan efek rumah kaca?
6.      Apa iklim di Indonesia?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa itu atmosfer.
2.      Untuk mengetahui klasifikasi atmosfer.
3.      Untuk mengetahui apa itu ramalan cahaya.
4.      Untuk mengetahui apa itu fenomena alam El-nino dan La-nina.
5.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan efek rumah kaca.
6.      Untuk mengetahui iklim di Indonesia.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Atmosfer
            Atmosfer terdiri dari kata “Atmos” yang berarti Uap dan “Sphaira” yang berarti Bola. Jadi, atmosfer adalah lapisan gas yang menyelimuti bulatan bumi. Atau dengan kata lain, atmosfer bumi adalah lapisan udara yang mengelilingi atau menyelimuti bumi yang bersama-sama dengan bumi melakukan rotasi dan berevolusi mengelilingi matahari. Atmosfer tersusun atas berbagai macam gas. Gas-gas tersebut adalah Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Argon (0,9%), Karbondioksida (0,03%), Uap air, Krypton, Xinon, Hidrogen, Kalium dan Ozon.

B.     Klasifikasi Atmosfer
            Berdasarkan perbedaan temperatur antar lapisan, atmosfer dapat diklasifikasikan menjadi beberapa lapisan, yaitu:


a.      Troposfer
                  Lapisan Troposfer merupakan lapisan yang terdekat dengan bumi. Troposfer merupakan daerah tempat perubahan-perubahan besar terjadi seperti suhu, tekanan dan kadar uap air. Walaupun sebagian besar perubahan atmosfer relatif terjadi di dekat bumi, troposfer merentang tinggi sampai ketinggian sekitar 0-12 km. Troposfer mengandung 75% gas dan juga mengandung debu, es dan cairan. Beberapa proses dan perubahan seperti asap, awan, serta perubahan cuaca dan iklim juga terjadi dilapisan ini.
                  Troposfer memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda dengan lapisan lain di atmosfer. Beberapa ciri dan karakteristik troposfer antara lain:
Ø  Berada di wilayah makhluk hidup permukaan bumi.
Ø  Merupakan lapisan dimana semua perubahan alam terjadi seperti suhu, cuaca, iklim, dan kelembaban.
Ø  Memiliki perubahan suhu yang stabil pada setiap kenaikan 100 m, yaitu menurun sebesar 0,5-0,6 .


                  Troposfer kemudian dibagi lagi menjadi 4 lapisan, yaitu:
1.      Lapisan udara dasar
            Tebal lapisan udara ini antara 1-2 meter di atas permukaan bumi. Keadaan di dalam lapisan udara ini disesuaikan dengan keadaan fisik bumi, seperti jenis tanaman, ketinggian dari permukaan laut, dan lain-lain. Keadaan udara dalam lapisan ini disebut sebagai iklim mikro yang mempengaruhi kehidupan tanaman dan juga jasad hidup di dalam tanah.
2.      Lapisan udara bawah
            Lapisan udara ini dinamakan juga lapisan batasan planiter (planetaire grenslag, planetary boundary layer), ketebalan lapisan ini antara 1-2 km. Berbagai perubahan suhu udara dan iklim terjadi di lapisan ini.
3.      Lapisan udara adveksi (gerakan mendatar)
            Lapisan ini disebut juga lapisan udara konveksi atau lapisan awan. Ketebalan lapisan ini antara 2-8 km. Di dalam lapisan udara ini gerakan mendatar lebih besar daripada gerakan tegak. Hawa panas dan dingin yang beradu di lapisan ini mengakibatkan kondisi suhu yang berubah-ubah.
4.      Lapisan udara tropopouse
            Lapisan ini merupakan wilayah di antara troposfer dan stratosfer. Letaknya sekitar 8-12 km di atas permukaan laut. Pada lapisan ini terdapat derajat panas yang paling rendah, yakni antara -46 sampai -80  pada musim panas dan antara -57  sampai -83  pada musim dingin. Suhu yang sangat rendah pada tropopause inilah yang menyebabkan uap air tidak dapat menembus ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi, karena uap air segera mengalami kondensasi sebelum mencapai tropopouse dan kemudian jatuh kembali ke bumi dalam bentuk cair (hujan) dan padat (salju/hujan es).

b.      Stratosfer
                  Lapisan stratosfer terletak tepat di atas troposfer. Jarak lapisan ini dari permukaan bumi sekitar 12-60 km. Pada zona ini, udara bergerak cepat dan dapat mencapai kecepatan 400 km/jam. Di wilayah kutub sendiri stratosfer berjarak mulai dari 8 km dari permukaan Bumi, berbeda dengan wilayah ekuator. Lapisan ozon yang berperan penting dalam melindungi kehidupan di muka Bumi dan radiasi sinar ultraviolet terdapat pada lapisan ini.
                  Seperti lapisan troposfer, lapisan stratosfer juga memiliki ciri dan karakteristik sendiri yang berbeda. Beberapa ciri dan karakteristik lapisan stratosfer antara lain:
Ø  Tidak terdapat uap air, awan, ataupun debu-debu atmosfer.
Ø  Dapat menyerap radiasi yang dipancarkan oleh sinar ultraviolet.
Ø  Terdapat lapisan ozon di lapisan ini.
Ø  Terdapat stratifikasi suhu.



                  Selain lapisan ozon, di dalam stratosfer sendiri terdapat lapisan-lapisan lain yang terbagi menjadi 3, yaitu:
1.      Lapisan isotermis
            Lapisan isotermis adalah lapisan yang terletak paling bawah di lapisan stratosfer. Cakupan rentang isotermis ini berada dari lapisan paling bawah stratosfer hingga mencapai jarak 20 km. Pada lapisan isotermis ini suhu udara atau temperatur yang bersifat stabil sehingga dapat dikatakan dari lapisan paling bawah stratosfer hingga ketinggian mencapai 20 km mempunyai suhu udara atau temperatur yang tetap.
2.      Lapisan panas
            Lapisan panas ini merupakan lapisan yang berada di atas lapisan isotermis. Pada lapisan ini terjadi peningkatan suhu atau temperatur hingga ketinggian mencapai sekitar 45 km. Faktor penyebab kenaikan suhu pada lapisan ini adalah karena lapisan ozon yang menyerap sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh Matahari sehingga lapisan ini merupakan berkumpulnya panas dari hasil penyerapan sinar ultraviolet.
            Uap air, awan, maupun debu-debu atmosfer, tidak kita temukan lagi pada lapisan ini. Pesawat-pesawat yang menggunakan mesin jet umumnya terbang pada lapisan ini sebagi jalur lintasannya. Alasan mengapa pesawat-pesawat tersebut diterbangkan pada lapisan ini karena menghindari adanya perubahan cuaca, karena perubahan cuaca sudah tidak kita temui pada lapisan ini.
3.      Lapisan campuran teratas
            Sesuai dengan namanya, lapisan campuran teratas terletak paling atas pada stratosfer. Karena letaknya yang paling atas, maka lapisan ini letaknya paling dekat dengan lapisan atmosfer yang berada di atas lapisan stratosfer, yakni lapisan mesosfer. Pada lapisan campuran teratas ini akan dapat kita temui lapisan stratopause, yakni batas pertemuan antara lapisan stratosfer dengan lapisan mesosfer.

c.       Mesosfer
                  Lapisan mesosfer merupakan lapisan atmosfer ketiga dari permukaan bumi yang terletak tepat di atas stratosfer. Lapisan ini memiliki rentang ketinggian antara 60-80 km dari prmukaan bumi, yang berarti ketebalannya sekitar 30-40 km. Sesuai dengan namanya, mesos memiliki arti pertengahan dalam bahasa Yunani kuno. Mesosfer ini merupakan lapisan yang melindung bumi dari meteor serta benda-benda langit lainnya. Di dalam lapisan mesosfer inilah benda-benda langit yang jatuh tersebut akan dilelehkan atau diluapkan sebagai akibat dari tubrukan yang terjadi antara partikel gas yang terdapat di dalamnya. Peristiwa gesekan dari meteor atau benda-benda langit pada lapisan mesosfer, jika dilihat dari permukaan bumi akan menyajikan penampakan visual yang disebut dengan bintang berekor atau bintang jatuh.
                  Mesosfer mempunyai karakteristik atau ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan lapisan-lapisan lainnya. Beberapa ciri atau karakteristik dari mesosfer antara lain:
Ø  Mempunyai kisaran suhu antara -50 hingga -70 .
Ø  Memiliki sebuah lapisan yang dinamakan lapisan menopause yang terletak diantara lapisan mesosfer dan lapisan termosfer.
Ø  Semakin ke atas maka suhu akan semakin rendah.
                  Selain memiliki fungsi utama sebagai perisai dari hantaman meteor dan benda langit lainnya, lapisan atmosfer juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai penghantar dari gelombang elektromagnetik. Lapisan mesosfer memiliki fungsi vital ini karena di dalam lapisannya terdapat beberapa atom yang terionisasi sehingga dapat memantulkan gelombang elektromagnetik yang sangat berguna bagi manusia. Karena kemampuan memancarkan gelombang elektromagnetik inilah lapisan ini seringkali disebut dengan bagian unsur-unsur geosfer.

d.      Termosfer
                  Lapisan termosfer terletak di atas mesopouse, berada di urutan nomor empat dari bawah atau urutan nomor dua dari atas. Nama termosfer berakar dari bahasa Yunani kuno yaitu “termos” yang berarti panas. Ketinggian lapisan ini adalah berkisar atara 85-800 km dari permukaan bumi. Sifat panas pada lapisan ini karena terbukanya termosfer dari radiasi luar angkasa dan matahari. Suhu udara di lapisan ini meningkat seiring dengan ketinggiannya. Diperkirakan suhu pada lapisan ini dapat mencapai kisaran 1500-2000 K.
                  Lapisan termosfer memiliki ciri khusus atau karakteristik antara lain:
Ø  Terjadi proses ionisasi pada sebagian molekul atau atom-atom yang akhirnya memberi nama lain dari lapisan termosfer yaitu lapisan ionosfer.
Ø  Terdapat lapisan inversi, yakni semacam kebalikan hukum fisika pada alam di mana semakin naik maka suhunya justru semakin tinggi.
Ø  Terdapat partikel-partikel ion yang berfungsi sebagai pemantul gelombang radio.
Ø  Terdapat zona anacoustic, yaitu sebuah zona di mana transmisi suara tidak dapat terjadi.
                  Seperti lapisan lain dalam atmosfer, lapisan termosfer juga tersusun dari lapisan-lapisan yang lebih spesifik. Lapisan-lapisan tersebut secara spesifik dapat diidentifikasi menjadi 3 bagian, yaitu:
1.      Lapisan udara E
            Lapisan ini terletak di antara ketinggian 80-150 km, dengan ketinggian rata-rata 100 km di atas permukaan air laut. Pada lapisan ini juga terjadi proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dikenal juga dengan nama lapisan udara Kennely dan juga Heaviside. Suhu di lapisan ini berkisar antara -70 hingga 50 . Lapisan ini mempunyai sifat memantulkan gelombang radio.
2.      Lapisan udara F
            Lapisan ini lebih dikenal dengan nama lapisan udara Appleton. Ketinggian lapisan ini antara 150-400 km.
3.      Lapisan udara atom
            Dinamakan lapisan udara atom karena pada lapisan ini tedapat benda-benda yang berbentuk atom. Lapisan ini terletak pada ketinggian antara 400-800 km. Lapisan ini menerima panas langsung dari matahari, sehingga pada lapisan ini suhu akan terasa lebih panas.  Diduga suhu yang ada di lapisan ini mencapai 1200 .
                  Pada termosfer ini juga terdapat lapisan yang bernama lapisan termopause. Lapisan termopause ini merupakan lapisan tertinggi di dalam  eksosfer.

e.       Eksosfer
                  Lapisan eksosfer merupakan puncak dari atmosfer karena merupakan lapisan terluar. Sebagai lapisan terluar, eksosfer ini juga dikenal sebagai lapisan dissipasisfer atau ruang antar planet (geostasioner). Penamaan tersebut karena pada eksosfer terdapat pengaruh gaya berat yang sangat kecil sehingga jarang sekali terjadi benturan di udara. Nama eksosfer ini berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu “exo” yang berarti luar atau eksternal. Eksosfer terletak pada ketinggian antara 800-1000 km dari permukaan Bumi.
                  Lapisan eksosfer memiliki beberapa ciri khusus atau karakteristik yang membedakannya dengan lapisan-lapisan lain, yaitu:
Ø  Sebagai lapisan terluar, eksosfer merupakan lapisan yang sangat berbahaya karena merupakan lapisan tempat terjadinya kehancuran dari berbagai meteor dan berbagai benda yang berasal dari luar angkasa.
Ø  Merupakan lapisan tempat terjadinya berbagai gerakan atom yang tidak beraturan.
Ø  Disebut sebagai ruang antar planet atau geostasioner.
Ø  Memiliki suhu yang sangat dingin atau suhu yang sangat rendah. Suhu pada lapisan eksosfer berkisar pada -57 .
Ø  Pada lapisan eksosfer, debu dapat meninggalkan atmosfer bumi hingga mencapai ketinggian 3.150 km dari permukaan bumi.
Ø  Memiliki ketebalan antara 700-800 km.
Ø  Pada lapisan ini tidak ditemukan sama sekali tekanan udara. Secara matematis, tekanan udara pada lapisan ini adalah sebesar 0 cmHg.
                  Sebagai lapisan terluar dari atmosfer, eksosfer tentu memiliki fungsi vital yang berbeda dengan lapisan lain. Fungsi vital lapisan ini adalah untuk merefleksikan cahaya matahari di mana hasil refleksi tersebut dikenal sebagai cahaya Matahari zodiakal.

C.    Ramalan Cuaca
            Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit dan pada jangka waktu yang singkat. Cuaca itu terbentuk dari gabungan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja. Misalnya: pagi hari, siang hari, atau sore hari dan keadaannya bisa berbeda-beda untuk setiap tempat serta jamnya. Keadaan cuaca dapat kita ketahui dari prakiraan cuaca atau yang sering disebut dengan ramalan cuaca. Ada dua jenis prakiraan cuaca yaitu:
a.      Prakiraan Cuaca Secara Sederhana
                  Prakiraan (perkiraan) cuaca atau dalam bahasa sehari-hari disebut ramalan cuaca adalah penggunaan ilmu dan teknologi untuk memperkirakan keadaan atmosfer bumi pada saat tertentu dan di wilayah tertentu.
                  Bangsa Babilonia tercatat telah melakukan prakiraan cuaca sejak 650 SM. Dua orang yang dianggap sebagai pelopor prakiraan cuaca sebagai ilmu adalah Francis Beaufort dan Robert Fitzroy. Saat ini prakiraan cuaca dilakukan menggunakan pemodelan (modeling) dengan bantuan komputer. Walaupun sudah dibantu teknologi, namun keakuratan tidak dapat mencapai 100% dan masih ada kemungkinan salah.
                  Pada zaman dahulu orang membuat analisa atau membuat prakiraan cuaca tidak perlu kaidah-kaidah ilmiah, tapi cukup dengan memperhatikan tanda-tanda alam, namun keakuratannya juga tidak dapat mencapai 100% dan masih ada kemungkinan salah. Berikut penjelasan tentang membuat prakiraan cuaca dengan memperhatikan tanda-tanda alam, yaitu:
a)      Memperhatikan jenis dan pergerakan awan
            Awan merupakan salah satu unsur cuaca untuk memperkirakan ada atau tidaknya hujan atau fenomena lain.
1.      Awan Cumulonimbus

      Gambar 1. Awan Cumulonimbus
                  Jika terlihat awan seperti gambar di atas maka:
1)      Apabila tumbuh dipagi hari dan berkembang pada siang hari mempunyai peluang akan terjadi cuaca buruk.
2)      Apabila terdapat gerakan awan yang berbeda-beda, misal lapisan yang satu bergerak ke barat dan lapisan yang lain bergerak ke utara bertanda cuaca buruk akan terjadi.
2.      Awan Cirus

             Gambar 2. Awan Cirus
                  Apabila terdapat awan cirus berbentuk pita panjang, bertanda dalam 36 jam mendatang akan terjadi cuaca buruk.
3.      Awan Altocumulus

        Gambar 3. Awan Altocumulus
                  Adanya awan altocumulus yang seperti makarel juga berarti cuaca buruk dalam 36 jam mendatang.
4.      Awan Towering

 Gambar 4. Awan Towering
                  Apabila terdapat jenis awan towering menandakan akan terjadi hujan keesokan harinya bahkan 3 jam kedepan akan terjadi hujan lebat tiba-tiba.
5.      Awan Nimbostratus

        Gambar 5. Awan Nimbostratus
                  Jenis awan ini terlihat gelap dan rendah, bergelantungan berat di udara, ini berarti hujan akan cepat turun. Apabila terdapat awan menutupi sebagian langit di malam hari musim dingin berarti udara panas/lebih hangat, karena awan mencegah radiasi panas yang akan meurunkan suhu pada malam yang cerah.

b)     Memperhatikan Keadaan Rumput
            Jika rumput kering, ini menunjukkan awan atau angin yang kuat, yang dapat berarti hujan. Jika ada embun, mungkin tidak akan ada hujan hari itu.
c)      Memperhatikan Langit Berwarna Merah
            Ingat sajak “Langit merah di malam hari kegembiraan pelaut, langit merah di pagi hari pelaut mengambil peringatan”. Sajak ini artinya apabila langit berwarna merah di malam hari maka tidak akan terjadi cuaca buruk, tetapi apabila langit berwarna merah di pagi hari maka akan terjadi cuaca buruk.
d)     Memperhatikan Pelangi di Barat
            Pelangi di barat berarti kelembaban yang cukup tinggi menandakan akan terjadi hujan. Di sisi lain, pelangi di timur sekitar matahari terbenam berarti bahwa tidak akan terjadi hujan dan diharapkan udara akan cerah.
e)      Pernafasan
            Ambil napas dalam-dalam, kemudian tutup mata dan hirup bau udara, apabila tanaman menghasilkan bau seperti kompos itu artinya akan turun hujan di waktu mendatang.
f)       Hewan
1)      Jika burung terbang tinggi di langit ada kemungkinan akan cerah, tetapi jika terbang rendah maka ada kemungkinan cuaca buruk akan terjadi.
2)      Jika burung bergerak cepat, itu artinya badai hujan akan turun untuk waktu yang lama.
3)      Apabila kucing cenderung membersihkan belakang telinganya, itu tandanya akan terjadi hujan.
4)      Kura-kura (Turtles) sering mencari tempat yang lebih tinggi apabila hujan lebat akan turun. Mereka biasanya sering berada di jalan selama periode 1 sampai 2 hari sebelum terjadinya hujan.

b.      Prakiraan Cuaca Ahli Meteorologi
                  Ahli meteorologi mampu memprediksi perubahan pola cuaca dengan menggunakan beberapa alat yang berbeda. Mereka menggunakan alat ini untuk mengukur kondisi atmosfer yang terjadi di masa lalu dan sekarang, dan mereka menerapkan informasi ini untuk membuat dugaan tentang cuaca di masa depan.
                  Para ahli meteorologi menggunakan banyak alat yang berbeda untuk tujuan yang berbeda. Kebanyakan orang yang akrab dengan termometer, barometer dan anemometer, masing-masing untuk mengukur suhu, tekanan udara, dan kecepatan angin. Para ahli meteorologi juga menggunakan alat-alat lain seperti balon cuaca. Balon cuaca adalah balon khusus yang memiliki paket cuaca yang mengukur suhu, tekanan udara, kecepatan angin, dan arah angin di semua lapisan troposfer.
                  Para ahli meteorologi juga menggunakan satelit untuk mengamati pola awan di seluruh dunia dan radar digunakan untuk mengukur curah hujan. Semua data ini kemudian terhubung ke super komputer yang menggunakan persamaan perkiraan numerik untuk menciptakan model-model prediksi atmosfer.
Pemantauan data dari semua alat-alat ini memungkinkan ahli meteorologi untuk melacak perubahan cuaca sepanjang waktu.

D.    Fenomena Alam El-Nino dan La-Nina
a.      Pengertian El-Nino dan La-Nina
                  El-Nino adalah suatu fenomena perubahan iklim yang secara global diakibatkan karena memanasnya suhu di permukaan air laut Pasifik bagian timur. Terjadinya El-Nino dapat diketahui secara kasat mata oleh orang-orang. Orang yang paling sering melihat peristiwa El-Nino terjadi adalah para nelayan dari Peru ataupun Ekuador. Biasanya peristiwa seperti ini akan berlangsung menjelang bulan Desember.
                  Sedangakan La-Nina adalah adalah kebalikan dari El-Nino yaitu suatu kondisi dimana suhu permukaan air laut di kawasan Timur Equador atau di lautan Pasifik mengalami penurunan. Berbeda halnya dengan El-Nino, La-Nina ini tidak bisa dilihat secara fisik. Selain itu terjadinya La-Nina ini periodenya tidak tetap.

b.      Proses Terjadinya El-Nino dan La-Nina
a)      Proses terjadinya El-Nino

            Terjadinya El-Nino melalui beberapa proses, proses tersebut antara lain:
1)      Perairan pasifik bagian tengah dan timur mengalami pemanasan suhu
                  Awal proses terjadinya El-Nino adalah karena adanya peningkatan suhu yang berada di perairan Pasifik bagian timur dan tengah. Dan hal ini akan meningkatkan suhu kelembaban pada atmosfer yang berada di atas perairan tersebut.
2)      Pembentukan awan
                  Setelah terjadinya pemanasan suhu yang berada di perairan Pasifik bagian tengah dan timur, serta menimbulkan kelembaban di atmosfer yang ada di atasnya, maka peristiwa tersebut mendorong terjadinya pembentukan awan dan akan meningkatkan curah hujan yang berada di kawasan tersebut.
3)      Terhambatnya pertumbuhan awan
                  Setelah proses pembentukan awan, maka di bagian barat Samudra Pasifik akan mengalami tekanan udara yang meningkat. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan di bagian timur Indonesia. Hal ini akan mengakibatkan di beberapa wilayah di Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang dikatakan jauh dari normalnya.
            Dari proses terjadinya El-Nino ini akan menyebabkan terjadinya La-Nina. Sehingga dapat dikatakan bahwasanya El-Nino dan La-Nina adalah peristiwa alam yang terjadi secara berturut-turut.
b)     Proses Terjadinya La-Nina

            Terjadinya La-Nina dapat dikatakan sebagai dampak dari terjadinya El-Nino. Ada beberapa proses terjadinya La-Nina yaitu:
1)      Angin di samudera pasifik menguat
                  La-Nina dikatakan sebagai penurunan suhu di permukaan perairan Samudra Pasifik bagian timur. Pada saat yang demikian ini ada angin pasat timur yang bertiup dan menguat di sepanjang Samudra Pasifik.
2)      Massa air hangat terbawa ke arah Pasifik barat
                  Karena adanya angin kencang yang bertiup di sepanjang Samudra Pasifik,  maka massa air hangat yang akan terbawa ke arah Pasifik barat akan lebih banyak.
3)      Terjadinya Upwelling
                  Karena ada massa air hangat yang terbawa ke Pasifik barat berjumlah lebih banyak, maka hal ini mengakibatkan massa air dingin di Pasifik timur bergerak ke atas kemudian menggantikan massa air hangat yang berpindah ke Pasifik barat tersebut. Kondisi yang demikian ini disebut upwelling. Karena adanya pergantian massa inilah maka suhu di permukaan air laut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan kondisi normalnya.

c.       Penyebab Terjadinya El-Nino dan La-Nina
                  Berikut beberapa penyebab terjadinya El-Nino dan La-Nina yaitu:
1.      Anomali suhu yang mencolok di perairan Samudra Pasifik.
2.      Melemahnya angin pusat (trade winds) di selatan Pasifik yang menyebabkan pergerakan angin jauh dari normal.
3.      Kenaikan daya tampung lapisan atmosfer yang disebabkan oleh pemanasan dari perairan panas dibawahnya. Hal ini terjadi di perairan Peru pada saat musim panas.
4.      Adanya perbedaan arus di perairan Samudra Pasifik.
d.      Dampak Terjadinya El-Nino dan La-Nina
a)      Dampak terjadinya El-Nino
            Secara umum, dampak terjadinya El-Nino adalah sebagai berikut:
1.      Angin pesat timur menjadi melemah.
2.      Melemahnya sirkulasi Moonson.
3.      Berkurangnya akumulasi curah hujan yang berada di wilayah Indonesia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan di bagian Utara. Sehingga cuaca di daerah ini cenderung terasa lebih dingin dan juga kering.
4.      Menyebabkan cuaca cenderung terasa hangat dan juga lembab di sepanjang daerah Pasifik Ekuatorial Tengah dan Barat.

b)     Dampak terjadinya La-Nina
            Selain itu, terjadinya La-Nina juga mempunyai dampak yang dapat ditimbulkan berupa berikut ini:
1.      Menguatnya angin pasat timur.
2.      Menguatnya sirkulasi Monsoon.
3.      Di wilayah Pasifik bagian timur, akumulasi curah hujan menjadi berkurang. Hal ini akan menjadikan cuaca menjadi lebih dingin dan juga kering.
4.      Terjadinya potensi hujan yang tutrun yang terdapat di sepanjang perairan Pasifik Ekuatorial Barat, yang meliputi Indonesia, Malaysia, dan juga bagian Utara Australia. Hal ini menyebabkan cuaca menjadi hangat dan juga lembab.

E.     Efek Rumah Kaca
a.      Pengertian Efek Rumah Kaca
                  Efek rumah kaca adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bumi, seperti memiliki efek rumah kaca yang dimana panas matahari akan terperangkap oleh atmosfer bumi. Secara umum, efek rumah kaca dapat diartikan sebagai naiknya suhu bumi yang disebabkan oleh adanya perubahan komposisi, yang terdapat pada atmosfer. Efek rumah kaca ini, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824.

b.      Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca

                  Proses terjadinya rumah kaca dimulai dari sinar matahari yang memancarkan sinar dalam bentuk sinar ultraviolet ke permukaan bumi. Sinar ini diterima oleh bumi dan dipantulkan kembali ke luar angkasa dalam bentuk sinar inframerah.
                  Sinar matahari yang masuk ke permukaan bumi ini akan berbentuk suhu panas, lalu sebagian dari sinar ini akan dipantulkan kembali ke atmosfer oleh permukaan bumi. Sedangkan sebagian sinarnya akan diserap oleh permukaan bumi dengan warna yang agak gelap karena mengandung gas rumah kaca yang berada di atmosfer
                  Gas rumah kaca disini memiliki peran sebagai benda hitam dimana jika ada cahaya datang, maka akan dipantulkan kembali dalam bentuk panas. Semakin banyak kandungan gas ini di atmosfer, maka semakin banyak pula panas yang dilepaskan ke bumi sehingga bumi semakin panas. Bumi yang panas menandakan bahwa terjadi efek rumah kaca.

c.       Penyebab Terjadinya Efek Rumah Kaca
                  Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (C) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas C ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.
                  Selain itu, efek rumah kaca juga dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1.      Penebangan dan pembakaran hutan

            Pohon memiliki fungsi untuk mengubah gas karbondiksida menjadi oksigen yang dibutuhkan oleh manusia. Tetapi manusia lebih suka menebang dan membakarnya untuk kepentingan sendiri misalnya untuk lahan bercocok tanam. Saat hutan dibakar pun akan menghasilkan gas rumah kaca, yang dapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca.
2.      Penggunaan bahan bakar fosil

            Penggunaan bahan bakar fosil misalnya minyak bumi dan batu bara, juga bisa menjadi salah satu penyebab semakin tingginya efek rumah kaca. Karena peggunaan yang berlebihan akan menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, seperti misalnya karbondioksida dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
3.      Pencemaran laut

            Lautan dapat menyerap karbondioksida dalam jumlah besar, yang disebabkan oleh pencemaran laut oleh limbah industri dan sampah. Kemudian laut pun menjadi tercemar sehingga banyak ekosistem yang di dalamnya musnah, laut pun tidak dapat menyerap karbondioksida degan baik.
4.      Industri pertanian

            Pertanian yang berskala besar dan sudah disebut dengan industri, biasanya akan menggunakan pupuk dalam jumlah yang banyak. Pupuk yang terpakai itu akan melepaskan gas nitrous oxide ke atmosfer yang kemudian menjadi gas rumah kaca.







5.      Limbah industri dan tambang

            Jenis-jenis industri seperti misalnya pabrik semen, pabrik pupuk dan penambangan batu bara serta minyak bumi akan mengakibatkan produksi gas rumah kaca seperti misalnya karbondioksida.
6.      Limbah rumah tangga

            Limbah rumah tangga juga bisa menjadi penyebab terjadinya efek rumah kaca. Jika limbah tersebut dibiakan terus menerus maka nantinya akan menghasilkan gas methana dan juga karbondioksida yang biasanya dihasilkan oleh bakteri pengurai sampah.
7.      Industri peternakan

            Contoh industri peternakan yang bisa menimbulkan terjadinya efek rumah kaca adalah peternakan sapi. Karena di sana banyak menghasilkan gas karbondioksida dan gas methana yang sangat besar ke atmosfer. Gas ini dihasilkan dari kentut sapi dan kotoran sapi, yang merupakan produksi dari bakteri pengurai dan perut sapi.








d.      Akibat dari Efek Rumah Kaca
                  Terjadinya efek rumah kaca menimbulkan beberapa akibat, antara lain:
1.      Perubahan iklim yang ekstrem

            Daerah yang cenderung hangat akan menjadi lembab, karena ada lebih banyak air yang menguap di lautan. Hal itu disebabkan oleh uap air yang merupakan gas pada rumah kaca, sehingga keberadaannya akan menyebabkan meningkatnya efek insulasi pada atmosfer.
            Uap air yang banyak akan membentuk awan yang lebih banyak. Awan ini akan menimbulkan pantulan sinar matahari kembali ke luar angkasa dan hal inilah yang akan menurunkan pemanasan. Sedangkan kelembaban yang sangat tinggi pada wilayah yang hangat dapat meningkatkan curah hujan yang tinggi, badai menjadi semakin kering dan juga air akan lebih cepat menguap.
2.      Meningkatnya suhu global

            Proses pemanasan pada bumi ini juga sudah sangat terasa dan bahkan sudah sangat terbukti melalui temperatur udara maupun temperatur laut. Adanya pencairan salju dan es di berbagai tempat di belahan dunia, kemudian naiknya permukaan laut secara global.
            Adanya perubahan ini diukur oleh para ilmuan dengan cara mengukur atmosfer, permukaan es, lautan, dan juga gletser dan hasilnya menunjukkan bumi saat ini sudah mengalami pemanasan. Pemanasan ini ternyata menjadi akibat dari gas rumah kaca di masa lalu.
3.      Meningkatnya permukaan air laut

            Salah satu dampak yang dihasilkan dari pemanasan global adalah meningkatnya permukaan air laut. Saat ini lapisan es yang berada di Benua Arktik mengalami pengurangan sebanyak 2,7% per dekade.
            Selain itu, temperatur global juga mengalami peningkatan dimana kedalamannya paling sedikit adalah 300 meter saja. Terjadinya perubahan rata-rata tingginya muka laut ini diukur pada daerah yang memiliki lingkungan ekologi yang stabil.
            Ketika lapisan atmosfer menghangat, maka secara tidak langsung air laut juga ikut menghangat, sehingga hal ini menghasilkan volume air laut akan semakin besar yang berdampak pada meningkatnya ketinggian permukaan air laut.
4.      Gangguan ekologis

            Saat terjadi pemanasan global, maka bintang akan cenderung bermigrasi ke tempat yang lebih baik. Misalnya hewan yang tinggal di daerah kutub akan bermigrasi ke atas pegunungan.
            Selain itu, tumbuhan juga mengubah arah pertumbuhannya dan mencari tempat baru yang memiliki habitat yang sama. Sebab habitatnya saat ini menjadi lebih hangat. Namun, karena pembangunan yang dilakukan oleh manusia justru menghalangi proses perpindahan tersebut.
            Hewan-hewan yang akan berpindah dari arah selatan ke utara terhalang oleh kota-kota dan juga lahan pertanian. Akibatnya mereka mati di perjalanan sebelum proses berpindah selesai. Matinya spesies ini juga bisa karena kehabisan makanan atau diburu oleh manusia karena masuk ke pemukiman. Bahkan beberapa spesies yang bisa berpindah menuju ke kutub pun banyak yang musnah.
5.      Dampak sosial dan politik

            Terjadinya perubahan cuaca dan juga lautan bisa mengakibatkan munculnya berbagai macam penyakit yang memiliki hubungan dengan panas. Tidak hanya itu, muncul pula penyakit melalui air, melalui vektor dan bahkan penyakit ini juga bisa menimbulkan kematian. Temperatur udara yang panas ini juga bisa mengakibatkan para petani gagal panen. Dari sinilah mulai muncul masalah malnutrisi dan kelaparan.

e.       Solusi untuk Mengatasi Efek Rumah Kaca
                  Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah efek rumah kaca, antara lain:
1.      Mengubah perilaku setiap orang dalam bentuk kepedulian.
2.      Mengehemat penggunaan listrik.
3.      Mengurangi penggunaan bahan bakar serta polusi dengan cara meminimalkan penggunaan kendaraan.
4.      Melakukan gerakan go green (penanaman tanaman).
5.      Mengelola sampah dengan baik.
6.      Tidak menggunakan CFC (Chloro Floro Carbon).

F.     Iklim di Indonesia
a.      Pengertian Iklim
                  Iklim adalah rata-rata cuaca pada suatu wilayah dalam jangka waktu yang relatif lama. Iklim juga didefinisikan sebagai berikut:
§  Iklim adalah sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap saatnya (World Climate Conference, 1979).
§  Iklim adalah konsep abstrak yang menyatakan kebiasaan cuaca dan unsur-unsur atmosfer di suatu daerah selama kurun waktu yang panjang (Glenn T. Trewartha, 1980).

b.      Jenis-jenis Iklim di Indonesia
                  Iklim yang dikenal di Indonesia ada tiga iklim yaitu:
1.      Iklim Musim (Iklim Muson)

            Iklim muson terjadi karena pengaruh angin musim yang bertiup berganti arah tiap-tiap setengah tahun sekali. Ada dua macam bagian angin dari iklim musim, yaitu:



Ø  Angin Musim Barat Daya
                  Angin musim barat daya adalah angin yang bertiup antara bulan Oktober sampai April yang sifatnya basah. Pada bulan-bulan tersebut, Indonesia mengalami musim hujan.
Ø  Angin Musim Timur Laut
Angin musim timur laut adalah angin yang bertiup antara bulan April sampai Oktober yang sifatnya kering. Akibatnya, pada bulan-bulan tersebut Indonesia mengalami musim kemarau.
2.      Iklim Tropika (Iklim Panas)

            Indonesia yang terletak di sekitar garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropika atau biasa disebut dengan iklim panas. Iklim ini berakibat banyak hujan yang disebut Hujan Naik Tropika. Karena Indonesia memiliki suhu yang tinggi sehingga setiap tahun Indonesia akan mengalami musim penceklik atau yang disebut dengan musim panas berkepanjangan. Iklim tropis di Indonesia terletak antara -231/2 LU/LS dan hampir 40% dari permukaan bumi. Ciri-ciri iklim tropis adalah sebagai berikut:
1)      Amplitudo suhu rata-rata tahunan kecil. Di khatulistiwa antara 20–23C. Bahkan di beberapa tempat rata-rata suhu tahunannya mempunyai 30C.
2)      Amplitudo suhu rata-rata tahunan kecil. Di khatulistiwa antara 1–5 . Sedangkan amplitudo hariannya lebih besar.
3)      Tekanan udaranya rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
4)      Hujan banyak dan lebih banyak dari daerah-daerah lain di dunia.
3.      Iklim Laut

            Negara Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagian besar tanah daratan Indonesia dikelilingi oleh laut atau samudra. Itulah sebabnya di Indonesia terdapat iklim laut. Sifat iklim ini lembab dan banyak mendatangkan hujan. Iklim laut berada di daerah tropis dan sub tropis dan daerah sedang.
Ø  Daerah Tropis dan Sub Tropis
                  Ciri iklim laut di daerah tropis dan sub tropis sampai garis lintang 40, adalah sebagai berikut:
1)      Suhu rata-rata tahunan rendah
2)      Amplitudo suhu harian  rendah/kecil
3)      Banyak awan
4)      Sering hujan lebat disertai badai.
Ø  Daerah Sedang
                  Ciri-ciri iklim laut di dearah sedang, yaitu sebagai berikut:
1)      Amplitudo suhu harian dan tahunan kecil
2)      Banyak awan
3)      Banyak hujan di musim dingin dan umumnya hujan rintik-rintik
4)      Pergantian antara musim panas dan dingin terjadi tidak mendadak dan tiba-tiba.

c.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Iklim di Indonesia
                  Faktor-faktornya dapat diperinci sebagai berikut:
1.      Faktor Alami
a)      Pada skala global (bumi secara keseluruhan)
                  Kepulauan Indonesia dikelilingi oleh dua samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dan berbatasan dengan dua benua yaitu benua Australia dan benua Asia.
b)      Pada skala regional
                  Kepulauan Indonesia terdiri atas lima pulau besar dan ribuan pulau kecil, dikelilingi dan diantarai oleh laut-laut dan selat-selat.
c)      Pada skala lokal
                  Gunug-gunung yang menjulang tinggi besar pengaruhnya atas penyebaran curah hujan dan suhu. Iklim dapat dipengaruhi oleh pegunungan. Pegunungan menerima curah hujan lebih dari daerah dataran rendah karena suhu di atas gunung lebih rendah daripada suhu di permukaan laut.
2.      Faktor Buatan
            Faktor buatan yang dimaksud adalah pengaruh manusia. Pengaruh manusia yang dapat mempengaruhi iklim seperti penebangan pohon-pohon dalam skala besar. Penurunan pohon karena itu akan meningkatkan jumlah karbon dioksida di atmosfer.
            Revolusi industri juga memiliki pengaruh yang besar pada iklim. Penemuan motor mesin akan meningkatkan pembakaran bahan bakar fosil yang diikuti dengan meningkatnya jumlah karbon dioksida di atmosfer. Semakin banyak jumlah karbon dioksida di atmosfer berarti bahwa karbon dioksida tidak dapat diubah menjadi oksigen secara keseluruhan.

d.      Kerugian dan Keuntungan Iklim di Indonesia
1.      Kerugian:
            Terjadinya bencana yang sering terjadi di Indonesia akibat prubahan iklim. Contohnya: musim hujan tiada henti mengakibatkan banjir pada perkotaan dan tanah lonsor pada lereng yang gundul. Bila terjadi musim kemarau berkepanjangan maka terjadi kekeringan pada suatu daerah. Yang lebih penting tentang perubahan iklim yang mengibatkan pemanasan global dan mencairnya es di kutub yang mengakibatkan pulau-pulau kecil tenggelam.
2.      Keuntungan:
            Indonesia sangat diuntungkan dengan iklim tropisnya. Bagai permata dunia, banyak negara yang iri dengan apa yang kita miliki. Matahari menyinari selama kurang lebih 12 jam per harinya. Ribuan jenis flora dan fauna dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di negara tercinta ini. Berbagai macam jenis kayu yang dapat kita manfaatkan dengan bijak, salah satunya untuk material bangun rumah. Selain itu jenis material lain juga sangat beragam, sehingga memudahkan kita untuk menciptakan hunian yang nyaman, sesuai keinginan dan tentunya menarik dari segi fasadnya. Dengan adanya sinar matahari yang cukup banyak dapat kita terima, sebenarnya dapat kita manfaatkan secara maksimal untuk sumber pencahayaan alami dalam bangunan sehingga kita dapat menghemat pemakaian listrik.

                             


             




      









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Atmosfer adalah lapisan gas yang menyelimuti bumi.
2.      Berdasarkan perbedaan temperatur antar lapisan, atmosfer dapat diklasifikasikan menjadi beberapa lapisan yaitu: Lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer dan eksosfer.
3.      Ramalan cuaca atau prakiraan cuaca adalah penggunaan ilmu dan teknologi untuk memperkirakan keadaan atmosfer bumi pada saat tertentu dan di wilayah tertentu. Ada dua jenis prakiraan cuaca yaitu: prakiraan cuaca secara sederhana dan prakiraan cuaca ahli meteorologi.
4.      El-Nino adalah suatu fenomena perubahan iklim yang secara global diakibatkan karena memanasnya suhu di permukaan air laut Pasifik bagian timur. Sedangkan, La-Nina adalah kebalikan dari El-Nino yaitu suatu kondisi dimana suhu permukaan air laut di kawasan Timur Equador atau di lautan Pasifik mengalami penurunan.
5.      Efek rumah kaca adalah naiknya suhu bumi yang disebabkan oleh panas matahari yang terperangkap di atmosfer bumi.
6.      Iklim adalah rata-rata cuaca pada suatu wilayah dalam jangka waktu yang relatif lama. Di Indonesia ada tiga jenis iklim, yaitu: Iklim Musim (Iklim Muson), Iklim Tropika (Iklim Panas), dan Iklim Laut.

B.     Saran
            Setelah mempelajari makalah ini kita dapat mengetahui hampir semua hal dari atmosfer bumi kita. Jadi diharapkan dengan adanya makalah ini kita sebagai makhluk yang diciptakan dalam bentuk manusia yang memiliki akal, dapat memposisikan diri kita dalam hal menjaga atmosfer bumi kita.











Tidak ada komentar: